Wednesday, 6 August 2014

Obat Berbahan Tembakau Dikembangkan Untuk Tangani Ebola

Penyebaran virus Ebola yang menelan lebih dari 800 nyawa manusia di Afrika bagian barat semakin meresahkan. Pasalnya, hingga saat ini belum ada obat resmi yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. WHO pun menyerukan perlunya penggunaan obat eksperimental dalam penanganan Ebola.

Salah satu produk yang akan dicoba adalah obat baru buatan Mapp Pharmaceuticals. Obat dengan nama ZMapp tersebut memiliki bahan dasar dari tembakau. Tembakau dipilih karena ketersediannya yang mudah dan harganya yang murah.


"Tembakau merupakan salah satu bahan dasar yang baik untuk obat yang berfungsi memperkuat sistem antibodi. Selain murah, tembakau juga mudah didapat dan dapat dengan mudah diproduksi secara banyak," tutur Erica Ollmann Saphire, profesor dari The Scripps Research Institute seperti dikutip dari Reuters, Kamis (7/8/2014).

Hanya saja obat ini sebelumnya memang hanya diuji pada binatang di laboratorium, sebelum akhirnya diberikan kepada dua orang warga negara Amerika yang positif terserang Ebola.

Obat ini memiliki kandungan protein yang disebut dengan antibodi monoclonal. Protein ini berfungsi untuk mengikat dan membuat virus Ebola dalam tubuh menjadi tidak aktif. Fungsinya memang mirip seperti antibodi kebanyakan, hanya saja monoclonal memiliki kandungan sel tertentu yang sangat ampuh terhadad Ebola.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) RI, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa ZMapp berisi kombinasi obat lain, yakni MB-003 dan ZMab. ZMapp juga berisi 3 jenis antibodi monoklonal yang di proses di tanaman Nicotiana benthamania. Tanaman ini adalah suatu jenis khusus daun tembakau.

Namun Prof Tjandra mengatakan bahwa karena masih dalam proses penelitian, keampuhan obat ini belum teruji. Begitu juga dengan mekanisme kerjanya.

"Mekanisme kerjanya belum sepenuhnya diketahui, mungkin menghambat virus memperbanyak diri, atau melakukan neutralisasi virus itu. Untuk dapat kemudian diakui khasiat dan keamanannya serta digunakan secara luas, maka obat ini masih memerlukan proses penelitian, yaitu uji klinik fase 1, fase 2 dan fase 3‎," urainya dalam surat elektronik.
sumber detikhealth

No comments:

Post a Comment