Showing posts with label hiburan. Show all posts
Showing posts with label hiburan. Show all posts

Wednesday, 29 May 2019

Tips Menghindari Kehilangan Anak Saat Libur



Hasil gambar untuk anak


Bepergian bersama keluarga tentu kegiatan yang mengasyikkan, apalagi jika dilakukan ketika libur panjang, termasuk libur Lebaran. Bila musim libur tiba, sejumlah tempat wisata biasanya dipadati dengan wisatawan, tidak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak. Dilansir South China Morning Post (SCMP), ada suatu keluarga yang menceritakan pengalaman terpisah dari anak mereka ketika liburan di Thailand, dan untungnya anak tersebut berhasil ditemukan oleh orangtuanya. Kemudian, keluarga itu belajar untuk menerapkan praktik keselamatan yang baik, yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk menghindari pemisahan dari anak-anak mereka. Oleh karena itu, keluarga tersebut memberikan 11 kiat-kiat agar terhindar dari kehilangan anak-anak mereka yang dipaparkan oleh Heather Greenwood Davis. Heather adalah orang yang mendirikan blog Globetrotting Mama dan melayani sebagai dewan penasihat untuk Family Travel Association, Chymy. Selain itu, kiat juga disampaikan Kirsten Maxwell, duta besar Moon Travel Guides dan pencipta situs Kids Are a Trip. Berikut rinciannya: 
1. Menetapkan aturan dasar 
Dalam langkah ini, orangtua diimbau untuk mengingatkan anak-anak tentang aturan dasar sebelum berangkat perjalanan. Aturan dasar yang harus disampaikan misalnya, anak-anak jangan berkeliaran sendirian, terlepas dari seberapa aman yang mereka rasakan. Ingatkan (anak) yang paling tua untuk memberi tahu orangtua mereka sebelum bepergian. Baca juga: Studi Ungkap Manfaat Liburan ke Alam Terbuka Saat Mudik bagi Anak 

2. Membagi tanggung jawab 
Orangtua disarankan untuk membagi tanggung jawab. Hal ini untuk mempermudah saat melacak anak di tempat-tempat yang ramai.
Bagi tugas, ibu mengawasi siapa saja, dan ayah mengawasi siapa. Ini sangat membantu, terutama jika Anda hanya mengawasi satu atau dua anak, daripada tiga atau empat anak. Kiat ini juga akan mencegah ayah dan ibu saling menyalahkan. 

3. Tetapkan titik temu 
Tetapkanlah titik temu yang telah disepakati oleh orangtua dan anak apabila terjadi perpisahan atau hilangnya pengawasan orangtua terhadap anak. Pilihlah tempat yang mudah diidentifikasi oleh anak-anak. Tempat itu seperti pelayanan anak hilang, pintu masuk lokasi, tempat parkir atau landmark khas di lokasi itu. Chymy menyarankan, anak-anak harus diberi tahu untuk tetap di tempat mereka berada, kemudian memanggil ibu atau ayah mereka dengan suara lantang. Cara ini penting jika mereka berada di area yang terisolasi atau ruang tertutup, seperti taman atau lokasi indoor, sehingga mereka tidak berkeliaran lebih jauh. 

4. Ajarkan anak untuk meminta bantuan 
Bekalilah anak Anda dengan cara meminta bantuan kepada orang lain jika mereka terpisah dari Anda. Greenwood mengungkapkan, dirinya mengajari anak-anaknnya bahwa orang dewasa yang berseragam seperti petugas keamanan atau satpam dapat didekati untuk dimintai bantuan. Chymy menyarankan alternatif lain, seperti orangtua lain (yang membawa anak) yang ada di lokasi juga bisa didekati untuk dimintai pertolongan. Adapun pemberian informasi penting, seperti nama orangtua dan nomor telepon adalah hal harus diajarkan kepada anak-anak. Chymy bercerita bahwa ia bertemu dengan satu keluarga yang sangat khawatir tentang keselamatan anak-anaknya, sehingga mereka menuliskan nomor telepon di lengan anak-anak menggunakan spidol.

5. Menulis informasi kontak 
Maxwell menyuruh anak-anaknya memakai pengenal yang berisi informasi kontak orangtua. Penulisan informasi bisa diselipkan di sepatu anak. Dalam hal ini, anak-anak usia sekolah dapat mengingat informasi tersebut dengan baik. 

6. Informasi pada anak yang lebih besar 
Anak-anak yang lebih besar dapat memiliki informasi yang tersimpan pada uang mereka dan hal-hal penting lainnya. Bisa juga menempatkan nomor informasi penting pada gawai mereka. Namun, teknologi terkadang tidak mempan, jadi cobalah dengan gaya kuno, yaitu menggunakan catatan tertulis. Beberapa orangtua bahkan mengemas detail akomodasi dan ongkos taksi untuk anak yang lebih besar. 

7. Foto anak terbaru 
Orangtua bisa juga mencari anak-anaknya dengan foto terbaru mereka yang disimpan dalam ponsel. Chymy merekomendasikan orangtua mengambil foto anak-anak mereka dengan pakaian yang mereka kenakan hari itu. Untuk mencari anak yang terpisah bisa menggunakan alat pelacak. Beberapa anak cenderung berkeliaran, pergi tanpa pola. Orangtua harus membuat keputusan yang akan menjaga anak-anak mereka aman dan mengurangi kecemasan mereka sendiri.

8. Aturan sandwich 
Ketika anak-anaknya masih kecil, Greenwood bersikeras bahwa mereka memiliki kontak fisik dengan salah satu orangtua di tempat yang ramai. Ia menerapkan aturan sandwich (roti isi) kepada anak-anaknya. Dalam aturan ini, orangtua memerankan roti isi, sementara anak-anak sebagai isinya. Jika sandwich terasa mulai "berantakan", ketika mereka berpergian atau terpisah, sang roti akan berteriak, "di mana acar?" mengacu pada salah satu anaknya. Kode ini diperlukan agar anak Anda mudah mengenali, dan tak dapat dibohongi orang lain. Baca juga: Orangtua Jarang Tersenyum, Berdampak Negatif pada Anak 

9. Menggunakan kaus berwarna cerah 
Menurut Greenwood, ada alasan cerdas pada keluarga yang memadankan warna kausnya antara anak dan orangtua. Hal ini diterapkan untuk lebih mudah melacak anak mereka yang terpisah. Pakaian anak-anak dengan warna mencolok atau warna cerah sebelum berbaur dengan kerumunan telah memudahkan dirinya menemukan anak. 

10. Menggunakan walkie-talkie 
Seiring bertambahnya usia anak-anak, mereka menginginkan lebih banyak kebebasan. Greenwood kemudian berinvestasi dengan membeli walkie-talkie berkualitas dengan jangkauan sampai 5 km. Mereka tidak bergantung pada layanan seluler atau wifi. Tentunya Anda harus tetap mengeluarkan biaya untuk fasilitas ini. Walkie-talkie juga berfungsi ganda sebagai mainan hebat ketika hiking atau berkemah, karena anak-anak ingin menjelajah, dan orangtua tetap ingin tetap berhubungan.

11. Menggunakan fitur GPS dan bluetooth 
Ada dua perangkat yang bisa dijadikan referensi untuk melacak anak Anda, yakni perangkat "HereO" dan "My Buddy Tag". HereO adalah teknologi yang memanfaatkan layanan GPS virtual yang terhubung ke aplikasi di ponsel pintar orangtua pada jam tangan dan dibanderol harga 199 dollar AS atau sekitar Rp 2,8 juta. Perangkat ini juga memungkinkan Anda untuk mengatur zona, sehingga ada peringatan jika anak mereka meninggalkan zona yang ditentukan. Sementara, My Buddy Tag merupakan teknologi yang memanfaatkan layanan bluetooth pada jam tangan dan dikenakan biaya 39,99 dollar AS atau sekitar Rp 575.000. Dua teknologi ini akan menunjukkan dengan tepat lokasi anak. Ada juga teknologi "AngelSense", yakni sistem pelacakan anak yang populer dan komprehensif. Dengan aplikasi ini, orangtua tidak hanya tahu di mana anak-anak mereka setiap saat, mereka dapat menentukan apakah anak-anak akan terlambat atau berada di tempat yang tidak dikenal. Orangtua juga dapat berkomunikasi dengan anak-anak dan mendengarkan mereka.

sumber kompas

Tuesday, 28 May 2019

Jon Snow "Game of Thrones" Stres


Hasil gambar untuk jon snow
Baru-baru ini, aktor pemeran karakter utama Jon Snow, Kit Harington dikabarkan masuk pusat rehabilitasi karena stres dan kecanduan alkohol. Dikutip dari Men's Health, ia mendaftarkan diri beberapa minggu sebelum serial populer 'Game of Thrones' tersebut menayangkan episode akhirnya pada 19 Mei lalu.

Belum diketahui apa penyebab pastinya, namun beberapa sumber mengatakan akhir dari serial GoT membuatnya sangat terpukul. Kit disebut menjalani serangkaian tes dan terapi saat berada di pusat rehabilitasi tersebut.

Salah satu terapi yang dijalani oleh pria berusia 32 tahun ini adalah pelatihan psikologis, mempraktikkan meditasi mindful dan terapi perilaku kognitif untuk melawan stres dan menangani emosi negatif.



"Kit telah memutuskan untuk menggunakan waktu senggang di jadwalnya sebagai kesempatan untuk menghabiskan waktu di pusat rehabilitasi guna memperbaiki masalah pribadi," tutur salah satu juru bicara Kit.

Sangat penting bagi siapapun juga untuk menghargai kesejahteraan pribadi dan kesehatan mental di atas segalanya. Fakta bahwa Kit memerlukan waktu untuk menangani stres adalah perilaku yang sangat berani bagi seorang dengan profil yang cukup tinggi dan contoh yang sangat baik.

Mencari pertolongan dalam kesehatan mental bukan tanda bahwa dirimu lemah. Beberapa hari yang lalu juga tersebar video Kit bereaksi sangat emosional saat mengetahui point besar dalam final GoT. Video tersebut diambil dari adegan film dokumenter milik stasiun TV HBO.

"Kit terlihat sangat baik dan sangat fokus pada kesehatannya. Secara pribadi aku sering melihat dia berada di luar. Menurutku luar biasa ia menyisihkan waktu untuk merawat dirinya, yang seharusnya dilakukan juga oleh banyak orang," pungkas salah satu warga, dalam wawancara bersama Page Six.
sumber detik



Menikah Jika Salah Pilih Bisa Menderita Seumur Hidup



Hasil gambar untuk married
Kapan nikah? Itulah pertanyaan yang paling sering ditanyakan ketika ada acara keluarga ataupun reuni. Ada juga yang nyinyir, jangan pilih-pilih atau keburu tua loh. Awalnya aku juga bingung dan takut karena belum menikah, apalagi teman-teman banyak yang sudah berkeluarga. Tapi lama kelamaan aku jadi kebal kalau ditanya soal nikah.


Karena menurutku pernikahan itu bukan soal cepet-cepetan, tapi lama-lamaan. Apalagi seumur hidup itu lama sekali, jadi kalau salah pilih, menderitanya ya seumur hidup. Dan lagi ini adalah hidupku dan aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri. Pastinya suatu saat aku juga ingin menikah dan memiliki keluarga, tapi aku ingin menikah di saat aku sudah siap dan yakin.



Aku merasa bersyukur diberikan kebebasan oleh keluarga untuk menentukan jalan hidupku sendiri. Dan aku selalu berusaha berpikir positif, mungkin saat ini aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk lebih dekat dan membahagiakan kedua orangtuaku, traveling serta mencoba hal-hal baru.



Setiap hari, aku berusaha untuk memperbaiki diri dan menggali talenta yang aku miliki. Dalam dua bulan terakhir, aku mengikuti lomba foto dan menulis. Awalnya aku hanya iseng, tapi ternyata aku malah memenangkan 3 lomba, salah satunya diadakan oleh Vemale. Tapi yang berkesan adalah saat aku menang lomba menulis yang diadakan oleh ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, yaitu ibu Siti Nurbaya Bakar dengan tema wanita yang menginspirasi. Dari sini, aku baru sadar kalau ternyata aku punya kemampuan menulis.


Di samping itu, aku juga berusaha untuk menambah pengalaman dengan aktif mengikuti organisasi, menjadi relawan untuk kaum dhuafa dan juga menjadi tour leader saat traveling. Setiap acara yang aku ikuti, mempunyai cerita tersendiri dan memberikan pengalaman baru buatku. Aku merasa hidupku benar-benar lebih hidup dan seru.


Jadi, daripada setiap hari memikirkan kapan nikah, lebih baik kita berusaha untuk memperbaiki dan memantaskan diri serta berdoa. Karena aku yakin, Tuhan sudah mengatur semua yang terbaik untuk kita. Dari pada sibuk mencari apa yang nggak ada dalam hidup kita, lebih baik fokus sama apa kita punya dan mensyukurinya.

sumber fimela

Wanita Tidak Menikah dan Tidak Punya Anak Apakah Bahagia?


Hasil gambar untuk single
Banyak orang berpikir menikah dan memiliki anak adalah kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidup. Tetapi hal ini ternyata tak berlaku sama untuk setiap orang. Wanita yang tidak menikah dan tidak memiliki anak ternyata merupakan kelompok orang yang paling berbahagia. Setidaknya itu menurut data penelitian yang dilakukan di negara maju. Paul Dolan, profesor ilmu perilaku, berpendapat wanita yang belum menikah dan tidak memiliki anak juga cenderung hidup lebih lama daripada mereka yang menikah dan memiliki anak. Dolan mengatakan, data terbaru menunjukkan simbol kesuksesan tradisional ini tidak selalu berkorelasi dengan tingkat kebahagiaan.  Kesimpulan tersebut Dolan peroleh berkat riset jangka panjang untuk mengukur kebahagiaan, penyebab serta konsekuensinya. Menurutnya para pria justru merasa lebih diuntungkan dalam pernikahan karena mereka mampu bersikap "lebih tenang". "Para pria mengambil risiko lebih sedikit, menghasilkan lebih banyak uang di tempat kerja, dan hidup sedikit lebih lama," katanya. Wanita, di sisi lain, justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus rumah tangga. Inilah yang menurut Dolan membuat para istri cenderung mengalami kematian dini dari pada yang belum menikah. Bukan berarti orang yang menikah tidak bahagia. Namun, hal itu terjadi jika pasangan bersedia bekerja sama mengurus rumah tangga.  Sebaliknya, pernikahan akan menjadi "neraka" jika salah satu pihak tak bisa diajak kerja sama. Buat apa menikah jika pasangan mereka tidak pernah ada saat dibutuhkan dan tak mau berkontribusi terhadap kelanggengan pernikahan.

Penelitian lain juga menemukan beberapa manfaat finansial dan kesehatan dalam pernikahan, baik untuk pria dan wanita.

Dari hasil riset tersebut, pendapatan lebih tinggi dan dukungan emosional baik memungkinkan orang yang menikah berani mengambil risiko dan mencari bantuan medis. Dolan mengatakan, pria memiliki manfaat kesehatan lebih tinggi dalam pernikahan karena mereka mengambil risiko yang lebih kecil.  Tapi, wanita setengah baya yang menikah berisiko lebih tinggi mengalami masalah pada kondisi fisik dan mentalnya daripada rekan sebanyanya. Dolan mengatakan, menikah dan memilki anak dipandang sebagai simbol kesuksesan tradisional. Inilah yang membuat wanita lajang dipandang tak bahagia oleh masyarakat. Menurut Dolan, jika suatu hari nanti para wanita menemukan pria yang dirasa tepat sebagai teman hidup, pasti mereka akan berpikir pernikahan adalah hal yang membahagiakan. Sebaliknya, jika pria tersebut adalah orang yang salah dan hanya mendatangkan kekecewaan, tentu ini akan membuat sang wanita tidak bahagia, mengalami penurunan dan kematian lebih dini.

sumber kompas

3 Faka Facebook yang Perlu Anda Tahu




Monday, 27 May 2019

7 Risiko Jika Tetap Nekat Jalin Hubungan Tanpa Restu Orang Tua

Hasil gambar untuk relationship

Hubungan percintaan sebetulnya tak hanya melibatkan dua orang. Ada beberapa pihak yang secara langsung terlibat di dalamnya, termasuk orangtua. Sehingga, banyak yang bilang jika restu mereka menjadi salah satu kunci kelanggengan jalinan cinta yang kamu jalani bersama pasangan.
Tanpa restu orang tua, mungkin kedepannya kamu dan pacar akan menemui banyak cobaan dan hambatan, terutama dari keluarga besar. So, ketahuilah 7 risiko di bawah ini sebelum memutuskan menjalin hubungan yang tak direstui tersebut. Sudah siapkah kamu dan pacar menghadapinya?

1. Orangtua akan selalu bersikap ketus

Namanya juga tak direstui, kemungkinan besar orang tuamu akan bersikap kurang welcome pada pacarmu. Setiap main ke rumah, mungkin mereka enggan menyapa atau menemuinya. Ada juga lho yang tega mengusir kekasih anaknya.
Kalau tidak sabar, tindakan orang tuamu tersebut bisa memicu kemarahan pacarmu karena merasa tak dihargai. Well, cobalah beri pengertian padanya untuk bersabar serta tetap berusaha meluluhkan hati orangtuamu. Sedangkan tugasmu adalah merayu serta memberi penjelasan pada orangtua agar bersedia menerima hubungan kalian.

2. Keluarga besar akan mengucilkan

Mungkin karena terpengaruh sikap orang tua, keluarga besarmu pun kemungkinan akan turut mengucilkan pacarmu. Tanpa meminta klarifikasi dari dirimu, mereka ikut-ikutan memusuhi pacar dan beranggapan dia tidak layak menjadi bagian dari keluargamu.Jika hal itu terjadi, janganlah lelah memberi dukungan kekasihmu. Anggap saja hal tersebut bagian dari cobaan hubungan yang telah dijalani. Selama kamu dan dirinya sama-sama mau berjuang, jalinan cinta kalian kemungkinan justru akan semakin kuat.

3. Hubungan antar orang tua tak pernah harmonis

Mengetahui anaknya diperlakukan tidak baik, bisa jadi orang tua pacarmu tak akan terima. Bukan tak mungkin mereka akan melarang anaknya untuk menjalin hubungan denganmu. Lebih dari itu, keduanya mungkin juga akan menyimpan rasa suka terhadap orang tuamu.Ketidakharmonisan itu kemungkinan juga akan berlanjut ketika kamu dan dirinya sudah menikah. Baik orangtuamu maupun orang tuanya enggan saling berhubungan atau bahkan kerap mempengaruhi kalian untuk berpisah.

4. Sulit melangkah menuju jenjang yang lebih serius

Karena tak mendapat restu orang tua, niatmu bersama pacar untuk menuju ke jenjang pernikahan pun jadi terhambat. Walau bagaimanapun, restu mereka adalah salah satu syarat berkah tidaknya rumah tangga yang akan kamu jalani nantinya.
So, datangilah orang tua masing-masing untuk membicarakan masalah ini baik-baik. Yakinkan pada mereka bahwa kamu dan dirinya sudah mempertimbangkan keputusan tersebut. Jika ke depannya terjadi apa-apa, sampaikan bahwa kalian siap bertanggung jawab.

5. Ketika ada masalah, orang tua cenderung menyalahkan kalian

Bukannya menghibur atau memberi solusi, baik orang tuamu maupun orang tuanya mungkin akan menyalahkan kalian jika setelah menikah ada masalah. Mungkin hal itu dikarenakan mereka belum mengikhlaskan hubungan kalian.Kalau persoalanmu dengannya tak terlalu berat, sebaiknya tak perlu mengadu ke orang tua. Cobalah belajar untuk menyelesaikannya bersama pasanganmu. Kalau tak menemukan titik temu, kalian dapat berkonsultasi ke psikolog atau teman yang dapat diandalkan.

6. Kemungkinan berpisah lebih besar

Kalau kamu dan dia tak bisa melewati berbagai cobaan yang telah disebutkan di poin-poin sebelumnya, risiko perpisahan pun kemungkinan bisa benar-benar terjadi. Terlebih jika kondisi tersebut diperparah oleh bujukan para orangtua agar kalian berpisah saja.Oleh karena itu, dibutuhkan kedewasaan untuk menghadapi setiap masalah yang datang. Batasi dulu campur tangan pihak lain dalam urusan rumah tangga kalian. Setelah bisa bersikap netral, bicaralah dengan pasanganmu dari hati ke hati hingga kalian bisa menemukan solusi atau jalan terbaik.

7. Jika menikah, akan berdampak pula pada anak-anak kalian

Ketidaksukaan orang tua pada pasanganmu atau orangtuanya pada dirimu mungkin juga akan berdampak pada keturunanmu kelak. Mereka kemungkinan akan bersikap kurang baik pada anak-anakmu, seperti berbuat kurang adil, tidak sayang, mudah memarahi, dan sebagainya.
Jika nanti itu terjadi dan kamu mengetahui anak-anakmu diperlakukan tidak baik, pelan-pelan tegurlah kakek-neneknya. Jelaskan pada mereka kalau buah hatinya tak ada sangkut pautnya dengan masalah kalian di masa lalu. Sampaikan pula bahwa sebagai kakek dan nenek, seharusnya mereka menyayangi semua cucunya tanpa membeda-bedakan.
Itulah 7 risiko yang akan kamu hadapi jika tetap nekat menjalin hubungan tanpa restu orang tua. Kalau kamu siap menghadapi poin-poin itu, tak ada salahnya melanjutkan hubungan. Sebaliknya, pertimbangkanlah kembali hubunganmu dengannya bila kamu tak sanggup menghadapi risiko-risiko di atas.
sumber Hipwee

Friday, 1 December 2017

Ciri Bermuka Dua

Paling tidak enak kalau berurusan dengan orang bermuka dua alias munafik. Di depan terlihat sangat baik, tapi ternyata di belakang sangat jahat. Orang seperti ini tidak pantas jadi teman siapapun. Dia hanya orang egois yang hanya peduli dengan dirinya sendiri. Kamu harus terus waspada, siapa tahu orang yang paling kamu percaya, justru adalah orang paling jahat.
Dia bawah ini adalah 7 tanda orang bermuka dua yang harus kamu waspadai. Sebaiknya kamu mulai menelaah apakah orang tersebut memiliki semua tanda ini atau tidak. Kalau dia melakukan hal ini, bisa jadi dia termasuk orang munafik.

1. Dia Cenderung Sombong

Orang munafik suka sekali diperhatikan, dia akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat dirinya terlihat jauh lebih hebat dari orang lain. Dia tidak suka ada orang lain yang merendahkannya. Dia memiliki karakter yang tinggi hati dan arogan.

2. Dia Suka Mencari Perhatian


Baginya, pendapat orang lain itu sangat penting. Makanya dia akan berusaha mencari perhatian orang lain agar orang lain memerhatikannya. Dia juga sosok yang bekerja keras untuk mendapat pujian.

3. Dia Suka Bergosip


Denganmu, dia akan membicarakan kejelekan orang lain. Dia juga akan menjejalimu dengan informasi tentang orang lain yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Di sinilah kamu harus waspada. Kalau denganmu saja dia bisa membicarakan orang lain, maka tunggu sampai kamu jadi bahan gosip selanjutnya.

4. Dia Membuat Janji dengan Mudah Tapi Sering Tidak Menepatinya


Dia orang yang mengentengkan segala sesuatu dan tidak pernah terbeban untuk menepati apapun. Dia sering sekali membuat janji tapi sering juga tidak menepatinya. Saat ada orang yang menyadari kesalahannya, dia akan menciptakan seribu alasan untuk memperbaiki citranya.

5. Dia Mengritik Orang Lain untuk Membuatnya Terlihat Hebat


Dia bukan mengritik untuk membangun orang itu, tapi untuk membuat dirinya terlihat hebat di mata orang. Orang munafik sangat peduli dengan apa kata orang. Makanya dia tidak peduli kalaupun dia harus menyakiti orang lain.

6. Dia Hanya Bersikap Baik Saat Membutuhkan Sesuatu Darimu


Dia akan bersikap ramah bahkan menolongmu untuk berbagai macam hal saat dia membutuhkan sesuatu darimu. Tapi saat dia selesai dengan urusannya, dia tidak akan peduli lagi denganmu.

7. Dia Hanya Menghargai Orang dengan Kedudukan Tinggi.


Dia akan menganggap rendah orang yang tidak punya kedudukan. Sebaliknya dia akan bersikap sangat sangat manis seperti penjilat di depan orang yang kedudukannya tinggi. Itu adalah keahliannya – cari perhatian.
Semua tanda di atas sangat jelas untuk memberikan petunjuk padamu apakah benar dia orang yang tulus atau bermuka dua. Jika memang orang di sekitarmu termasuk orang munafik, jangan bersedih untuknya. Jauhi dia sebisa mungkin sebelum dia berhasil menyakitimu.
sumber idntimes