Suatu hari seorang peserta training remaja, sebut saja namanya JJ, bertanya kepada saya, ”Bu Lisa, bagaimana caranya diet?”
Saya jawab, ”Mudah. Kurangi makan.” “Wah, enggak bisa Bu.” “Mengapa?” “Ibu saya tiap hari masak. Dan masakan ibu saya semuanya sangat enak. Jadi saya tidak bisa mengurangi makan.”
Saya jawab, ”Mudah. Kurangi makan.” “Wah, enggak bisa Bu.” “Mengapa?” “Ibu saya tiap hari masak. Dan masakan ibu saya semuanya sangat enak. Jadi saya tidak bisa mengurangi makan.”
“Oke. Kalau begitu, makan tiga kali sehari, tapi jangan ngemil.” “Wah. Tidak bisa juga Bu.” “Mengapa?” “Pagi dan sore selalu tersedia makanan kecil buatan ibu saya. Dan semua makanan buatan ibu saya sangat enak. Jadi saya tidak bisa untuk tidak ngemil.”
“Kalau begitu tidak usah diet,” kata saya. “Lho? Kan saya ingin diet Bu?” “Saat ini, keinginanmu belum menjadi tujuan. Tunggu sampai keinginan itu semakin besar dan benar-benar menjadi tujuan kamu.” “Kapan Bu?” “Saya tidak tahu,” jawab saya sambil tertawa.
Kami pun berhenti membahas masalah itu. Satu tahun kemudian, tanpa sengaja, saya bertemu dengan JJ di sebuah pesta pernikahan. Dia yang menyapa saya, “Bu Lisa.” Saya menengok dan terkejut. Saya mengenali dia, tapi kini tubuhnya langsing. Jauh berbeda dengan setahun yang lalu. “Hai. Saya sampai pangling. Kok sekarang langsing banget.” “Iya Bu,” katanya sambil senyum-senyum. “Diet ya?” “Iya, Bu.” “Tuh bisa.” “Sekarang saya punya pacar, Bu.”
Dia pun memperkenalkan pria yang berdiri di sampingnya. “Ooooooohh,“ saya tertawa dan menjabat tangannya.
“Dia ini Bu, tiap kali ke toko atau mal, senang menunjuk-nunjuk baju dan bilang mau membelikan saya baju itu. Tapi Bu, semua baju yang dia tunjuk adalah baju yang untuk orang yang langsing. Saya kan ingin dibelikan baju olehnya Bu, jadi saya diet,” dia menjelaskan sambil tertawa.
Saya bertanya, ”Ibu kamu masih suka masak?” “Masih,” jawabnya malu-malu. “Di rumah masih banyak makanan?” “Masih.” “Kok sekarang bisa diet?” Dia hanya tertawa. “Tuh kan. Dulu kamu tidak bisa diet, bukan karena salah ibu, bukan karena masakan ibu. Buktinya sekarang kamu bisa diet padahal ibu tetap masak.” Dia mengangguk-angguk sambil tertawa.
Jangan-jangan kita seringkali bersikap demikian juga. Anda ingin mencapai sesuatu? Anda ingin menabung? Anda ingin penghasilan lebih besar? Anda ingin langsing? Anda ingin sukses? Anda ingin jadi juara? Tidak ada orang yang bisa menjadi juara/berhasil tanpa punya tujuan yang jelas, tekad yang besar, dan memperjuangkannya habis-habisan.
Kiat Sukses untuk Anda:
1. Jadikan keinginan Anda sebagai tujuan Kita bukan hanya sekadar memiliki keinginan sambil berharap, “Siapa tahu tercapai, seandainya ternyata tidak tercapai ya tidak apa-apa.” Tidak bisa demikian. Tujuan hidup Anda harus jelas dan tidak boleh gagal! Tujuan hidup harus tercapai!
2. Miliki tekad untuk mencapai tujuan itu Coba renungkan. Mungkinkah seseorang bisa jadi juara dengan hanya berlatih sekali seminggu? Apalagi kalau sering membolos karena berbagai alasan. Misalnya sedang sakit, ada urusan keluarga, sedang ingin istirahat, dan sebagainya. Tidak mungkin! Usaha dan tekadnya belum cukup kuat untuk menuai prestasi maksimal. Seorang juara sejati tidak pernah bosan. Tidak pernah beralasan untuk tidak latihan, karena mereka semua ingin jadi juara. Tidak ada kata-kata, ”Kalau gagal tidak apa-apa.” Yang ada hanyalah, ”Saya pasti jadi juara!”
3. Arahkan semua usaha ke tujuan itu JJ, dalam cerita di atas, mengurangi ngemil, bahkan ikut olah raga senam untuk mencapai tujuannya. Sahabat saya yang juara renang, mengatur segala sesuatu dengan hati-hati agar bisa berlatih renang tiap hari. Semua perlu ketekunan. Perlu disiplin. Tetapi semua dilakukan dengan senang hati. Tiap hari. Bertahun-tahun.
Jangan menyerah sebelum mulai. Go for it!
sumber andriewongso
No comments:
Post a Comment